Arsip untuk PAI

ALIRAN dalam PSIKOLOGI

 1.      Aliran-aliran dalam Psikologi

Psikologi adalah ilmu yang masih muda.Ia terpisah menjadi ilmu yang berdiri sendiri sejak 1879,yaitu pada waktu didirikannya labolatorium Psikologi yang pertama oleh Wilhelm Wundt (1832-1920) di Leipzig, Jerman. Sebelum sampai pada Psikologi eksperimental oleh Wundt, terdapat dua teori yang mulai mengarahkan berdirinya Psikologi sebagai ilmu. Kedua teori ini ialah:

A.    Psikologi pembawaan atau Psikologi Nativistik

Teori ini mengatakan bahwa jiwa terdiri dari beberapa faktor yang dibawa sejak lahir atau yang disebut pembawaan atau bakat. Pembawaan-pembawaan terpenting adalah pikiran, perasaan, dan kehendak, yang masing-masing terbagi lagi ke dalam beberapa jenis pembawaan yang lebih kecil. Perilaku atau aktifitas jiwa ditentukan oleh pembawaan-pembawaan ini. Tokoh terkenal dari aliran ini adalah Franz Joseph Gall (1785-1828), yang mencoba menemukan lokasi pembawaan-pembawaan itu di otak dalam metodenya dengan memeriksa tengkorak kepala, yang disebut Frenologi. Metode ini tidak bertahan lama karena dianggap kurang kuat dasar-dasar ilmiahnya.

B.     Psikologi Asosiasi atau Psikologi Empirik

Sejak abad ke-7,Psikologi Asosiasi merupakan salah satu aliran psikologi yang dipengaruhi secara tidak langsung oleh ilmu pengetahuan alam (khsusnya fisika).Metode yang digunakan oleh aliran ini dalam usaha mempelajari jiwa adalah meode analistis-sintesis. Metode ini, merupakan cara berpikir dalam ilmu pengetahuan alam, yang memandang alam ini terdiri atas unsur-unsur (elemen-elemen) dan terjadi proses pesenyawaan berdasarkan hukum-hukum tertentu. Di sini tidak diakui adanya faktor-faktor kejiwaan yang dibawa sejak lahir. Jiwa, menurut teori ini berisi ide-ide yang didapatkan melalui panca indra, dimemorikan dan saling diasosiasikan satu sama lain melalui prinsip-prinsip kesamaan,kekontrasan, dan kelangsungan. Oleh karena jiwa dipandang oleh aliran ini seperti mesin yang bergerak secara mekanis menurut menurut hukum-hukum tertentu, maka berarti jiwa dipandangnya pasif hanya hukum-hukum yang menggerakkan jiwa yang dianggap aktif. Dan Psikologi lama menyusun lima hukum asosiasi, sebagai berikut:

Hukum I  : Hukum persamaan waktu: tanggapan-tanggapan yang muncul pada       saat yang sama dalam kesadaran, akan terasosiasi bersama. Misalnya, benda dengan namanya, kampus dengan jalannya, barang dengan bahannya, dan lain-lain.

Hukum II  : Hukum peraturan: benda atau peristiwa yang mempunyai perurutan, akan terasosiasi bersama. Misalnya, huruf-huruf dari alfabet, melodi, sanjak, dan lain-lain.

Hukum III  : Hukum persamaan (persesuaian): tanggapan-tanggapan yang hampir sama, akan terasosiasi bersama. Misalnya, potret dengan orangnya, Surabaya dengan Jakarta, lautan dengan lautan pasir, dan lain-lain.

Hukum IV : Hukum kebalikan (lawan): tanggapan-tanggapan yang berlawanan akan teasosiasi bersama. Misalnya, kaya-miskin, tua-muda, besar-kecil, gemuk-kurus, dan lain-lain.

Hukum V : Hukum galur atau pertalian logis: tanggapan-tanggapan yang mempunyai perkaitan yang logis satu sama lain, akan terasosiasi bersama. Misalnya, liburan dengan pesiar, musim barat dengan hujan, musim pancaroba dengan penyakit, dan lain-lain.[1]

Tokohnya Psikologi Asosiasi ialah, John Locke (abad 17), kemudian aliran ini diikuti oleh David Hume, Hertley John Stuart Mill, dan Herbert Spencer.

  1. Pendirian Psikologi Asosiasi

1)      Dalil pokok: Jika beberapa elemen (unsur) bersama-sama atau berturut-turut masuk ke dalam kesadaran, dengan sendirinya terjadi hubungan antar unsur-unsur itu. Hubungan ini disebut Asosiasi.

Ciri-ciri daripada Asosiasi itu adalah:

a)      Tiap gejala jiwa tidak lain adalah kumpulan unsur-unsur elemen.

b)      Kekuatan asosiasi tergantung pada banyak kalinya unsur-unsur itu masuk bersama-sama ke dalam kesadaran.

c)      Asosiasi hanya sifat luar saja, asosiasi tidak dapat mengubah sifat masing-masing elemen.

2)      Metode kerja Psikologi Asosiasi:

Ilmu jiwa Asosiasi mengikuti cara kerja ilmu gaya (mekanika), dan darinya dipakai analitis-sintesis dalam kalangan ilmu jiwa.

Analitis: Orang berusaha mengadakan analisis untuk mengembalikan semua gejala jiwa kepada unsur yang paling sederhana, yakni tanggapan segala sesuatu yang terjadi dalam kesadaran berasal dari elemen-elemen tersebut. Bahkan semua gejala jiwa yang lebih tinggi (misalnya memikir, merasa, menghendaki) dapat dikembalikan kepada tanggapan.

Sintesis: Orang berusaha mengadakan sintesis, menyusun gejala-gejala jiwa yang lebih pelik dari unsur-unsur pangkal yakni tanggapan.[2]

Tanggapan-tanggapan, ingatan-ingatan, dan pengindraan, merupakan unsur-unsur jiwa yang diutamakan oleh aliran ini. Dengan metode alistis-sintesis, aliran ini meenganalisis jiwa. Dengan analitis dia berusaha menguraikan gejala-gejala kejiwaan pada unsur-unsur pokok berupa tanggapan-tanggapan. Dengan sintesis, mereka menata tanggapan-tanggapan tersebut secara asosiatif menjadi gejala-gejala psikologi yang bersenyawa.

2.      Teori-teori dalam Psikologi

Setelah psikologi berdiri sendiri,lambat laun para ahli psikologi mengembangkan sistematika dan metode-metodenya sendiri yang saling berbeda satu sama lain. Dengan demikian, timbul apa yang disebut aliran-aliran dalam psikologi.

A.    Elementisme atau strukturalisme

Aliran ini adalah yang diajukan oleh W. Wundt (1832-1920) dari laboratoriumnya di Leipzig, Jerman. Wundt pada mmasa itu (1879) sangat mengutamakan penyelidikan tentang struktur kejiwaan manusia dan ia mendapati bahwa jiwa manusia itu terdiri dari berbagai elemen (bagian) seperti pengindraan, perasaan, ingatan, dan sebagainya. Masing-masing elemen itu dikaitkan satu dengan yang lain oleh asosiasi. Oleh karena itu, aliran Wundt dinamakan elementisme, strukturalisme, dan juga asosiasisme.

B.      Psikologi Gestalt

Gestalt adalah sebuah kata Jerman yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa inggris sebagai form atau configuration (bentuk). Ilmu jiwa Gestalt timbul sebagai reaksi terhadap elemen psikologi (elementisme). Aliran ini diumumkan pertama kali oleh Max Wartheimer pada 1912, dipelopori oleh Von Ehrendels. Tokoh-tokoh lainnya adalah Kurt Koffka (1886-1941) dan Wolfgang Kohler (1887-1967). Mereka kemudian pindah ke Amerika, karena sebagai keturunan Yahudi mereka jadi sasaran kejaran NAZI.

Teori yang mereka ajukan adalah bahwa dalam pengamatan atau persepsi suatu situasi, rangsangan ditangkap secara keseluruhan. Jadi, persepsi bukanlah penjumlahan rangsangan-rangsangan kecil (detail) yang ditangkap oleh alat-alat indra.

Wundt menyatakan adanya schopferische synthese (sintese yang kreatif/mencipta). Yaitu, setiap gejala psikis yang majemuk adalah lebih dari pada penjumlahan elemen-elemen, dan memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri baru yang tidak dimiliki oleh elemen-elemen tadi. Ehrenfels berkata, bahwa bagi pengindraan manusia, totalitas itu selalu ada lebih dahulu daripada bagian-bagiannya. Artinya, dalam kesadaran manusia itu muncul terlebih dahulu satu kompleks atau satu gambaran totalitas; baru kemudian akan muncul bagian-bagian daripada penjumlahan bagian-bagian tersebut atau totalitasnya; dan keseluruhan ada lebih dahulu daripada bagian-bagiannya.[3]

Misalnya, kalau kita mangamati sebuah mobil, kita tidak melihatnya sebagai susunan ban, lampu, kaca, pintu, alat kemudi, dan lain-lain, melainkan kita mengamatinya benar-benar sebagai sebuah mobil, yang mempunyai arti tersendiri terleepas dari detail-detailnya. Karena itulah, meskipun mobil itu kita lihat dari depan, belakang, samping, dekat, jauh, dalam gelap, dan sebagainya, selalukita tangkap sebagai mobil, tidak sebagai benda lain. Eksperimen Gestalt yang pertama adalah tentang pengamatan gerakan, kalau beberapa lampu kita letakkan berderet dan dinyalakan berganti-ganti dengan cepat, maka kita tidak akan melihat lampu-lampu itu menyala berganti-gantian, melainkan kita akan melihat sebuah sinar yang bergerak. Gejala ini disebut Phi Phenomenon yang sering kita lihat pada lampu-lampu hias.[4]

          Perbedaan

Ilmu Jiwa Asosiasi

  1. Semua gajala kejiwaan terjadi dari unsur-unsur yakni tanggapan.
  2. Bagian-bagian (unsur) itu menjadi suatu proses penggabungan yang disebut Asosiasi. Dalam jumlah ini unsur-unsur tetap berdiri sendiri dan jumlah itu benar-benar hanya merupakan gabungan unsur-unsur.

Ilmu Jiwa Gestalt

  1. Dalam alat kejiwaan tidak terdapat unsur-unsur melainkan gestalt (keseluruhan).
  2. Tiap bagian tidak berarti sama sekali; baru mempunyai arti kalau bersatu dalam hubungan kesatuan. Tiap bentuk tertentu dari kesatuan itu disebut Gestalt.[5]

Teori Ehrenfels kemudian dikembangkan oleh:

1)      Sekolah Berlin, dengan tokoh-tokohnya: M. Wertheimer, K. Koffka, dan W.Kohler.

2)      Sekolah Leipzig, dengan tokoh-tokohnya: F.Krueger dan H.Volkelt, yang mengutamakan faktor perasaan.

3)      Claparede dan Decroly yang banyak menyebutkan masalah skematisasi, globalisasi, dan sinkretisme.

C.     Behaviourisme atau Psikologi S-R

Behaviourisme adalah aliran yang khususnya terdapat di Amerika Serikat. Aliran ini ditemukan oleh John B.Watson (1878-1958). Obyek psikologi menurut aliran ini ialah: tingkah laku dan bukannya kesadaran, karena itu aliran ini disebut Psikologi tingkah laku; dan studinya terbatas mengenai pengamatan  serta penulisan tingkah laku dan menginginkan mengembangkan psikologi yang murni obyektif, dengan jalan menghilangkan pengalaman-pengalaman batiniyah. Jelasnya Behaviourisme adalah ilmu jiwa tanpa jiwa.

Aliran ini menyatakan, bahwa semua tingkah laku manusia itu bisa ditelusuri asalnya dari bentuk refleks-refleks. Jadi, refleks merupakan elemen tingkah laku yang paling sederhana, dengan semua bentuk tingkah laku yang kompleks dan lebih tinggi bisa disusun. Refleks adalah reaksi-reaksi yang tidak disadari terhadap perangsang-perangsang tertentu. Manusia disebut sebagai: komplek refleks-refleks, atau sebagai mesin-reaksi belaka, faktor pembawaan dan bakat tidak mempunyai peranan sama sekali; pendidikanlah yang maha kuasa dalam membentuk diri manusia. Maka, manusia itu hanyalah merupakan mahluk kebiasaan belaka.[6] Ada dua aliran dalam Behaviourisme, yaitu:

  1. Aliran psikorefkleksologi di Rusia, dengan tokoh-tokohnya yang terkenal: Pavlov dan Von Bechterev.
  2. 2.      Behaviourisme di Amerika Serikat, dengan tokoh-tokohnya: Thorndike dan J.B.Watson.

Thorndike adalah seorang tokoh behaviouris yang mencetuskan teori Trial and Error dari percobaannya terhadap seekor kucing. Pada akhir percobaannya Thorndike berkesimpulan bahwa:

1)      Binatang, belajar dengan trial and error.

2)      Hasil coba-coba itu merupakan asosiasi yang kuat untuk melahirkan kembali gerak seperti yang telah lalu, karenanya binatang mudah mudah menyesuaikan diri dengan situasi yang sama. Hal ini disebut dengan Love of effect. Karena tindakan binatang percobaannya itu tidak berbeda dengan gerakan mesin yang pasti, maka disimpulkan bahwa jiwa hewan, demikian pula manusia, dalam mempelajari berulang-ulang akan semakin lancar jalannya.

Tokoh lain J.B.Watson,berusaha menghilangkan arti kesadaran dalam jiwa manusia. Menurut Watson, kesadaran merupakan istilah filsafat. Watson terkenal dengan teorinya tentang hubungan antara perangsang dengan sambutan (stimulus respon), sehingga teorinya disebut teori “S-R-bon” (Bon ikatan antara stimulus dengan respon).[7]

 


BAB III

PENUTUPAN

  1. Kesimpulan

Demikianlah pada pokoknya, psikologi pada abad ke-20 berkembang sedemikian pesat dengan tujuan, di samping lebih memperdalam ilmu pengetahuan itu sendiri,juga diharapkan bermanfaat lebih intensifbagi kehidupan manusia.

Sistematika proses perkembangan psikologi yang tergolong dalam banyak bagian, sesungguhnya hanya dapat dikembalikan pada dua bagian pokok. Psikologi yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan alam, disebut juga psikologi lama. Sedangkan psikologi yang berdiri sendiri dan psikologi pada abad ke-20,disebut juga psikologi modern.

Daftar Pustaka :

Dr. Kartini Kartono, PSIKOLOGI umum, CV. Mandar Maju, Bandung 1996.

Drs.H.Abu Ahmadi, PSIKOLOGI umum, PT Rineka Cipta, Jakarta 2009.

Sarlito W.Sarwono, pengantar PSIKOLOGI UMUM, Rajawali Pers, Jakarta 2009.


[1]  Dr. Kartini Kartono, PSIKOLOGI umum, CV. Mandar Maju, Bandung 1996 ….hlm 60

[2]  Drs.H.Abu Ahmadi, PSIKOLOGI umum, PT Rineka Cipta, 2009….hlm 47

[3]  Dr. Kartini Kartono, PSIKOLOGI umum, CV. Mandar Maju, Bandung 1996…hlm 160

[4]  Sarlito W.Sarwono, pengantar PSIKOLOGI UMUM, Rajawali Pers,2009…hlm 29-30

[5]  Drs.H.Abu Ahmadi, PSIKOLOGI umum, PT Rineka Cipta, 2009….hlm 48

[6]  Dr. Kartini Kartono, PSIKOLOGI umum, CV. Mandar Maju, Bandung 1996…hlm 152

[7]  Drs.H.Abu Ahmadi, PSIKOLOGI umum, PT Rineka Cipta, 2009….hlm 40

Leave a comment »

Cendekiawan dan Kebebasan Intelektual

1.Mengenal Cendekiawan

Cendekiawan atau intelektual ialah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, menggagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Kata cendekiawan berasal dari Chanakya, seorang politikus dalam pemeritahan Chandragupta dari Kekaisaran Maurya.

Secara umum, terdapat tiga pengertian modern untuk istilah cendekiawan, yaitu:

a.Mereka yang amat terlibat dalam idea-idea dan buku-buku;

b.Mereka yang mempunyai keahlian dalam budaya dan seni yang memberikan  mereka kewibawaan kebudayaan, dan yang kemudian mempergunakan kewibawaan itu untuk mendiskusikan perkara-perkara lain di khalayak ramai. Golongan ini dipanggil sebagai “intelektual budaya”.

c.Dari segi Marxisme, mereka yang tergolong dalam kelas dosen, guru, pengacara, wartawan, dan sebagainya.

Oleh karena itu, cendekiawan sering dikaitkan dengan mereka yang lulusan universitas. Namun, Sharif Shaary, dramawan Malaysia terkenal, mengatakan bahwa hakikatnya tidak semudah itu. Ia berkata:

“Belajar di universitas bukan jaminan seseorang dapat menjadi cendekiawan… seorang cendekiawan adalah pemikir yang sentiasa berpikir dan mengembangkan (serta) menyumbangkan gagasannya untuk kesejahteraan masyarakat. Ia juga adalah seseorang yang mempergunakan ilmu dan ketajaman pikirannya untuk mengkaji, menganalisis, merumuskan segala perkara dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat di mana ia hadir khususnya dan di peringkat global umum untuk mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran itu. Lebih dari itu, seorang intelektual juga seseorang yang mengenali kebenaran dan juga berani memperjuangkan kebenaran itu, meskipun menghadapi tekanan dan ancaman, terutama sekali kebenaran, kemajuan, dan kebebasan untuk rakyat.”

Dalam perbincangan akademis telah dibedakan antara lapisan inteligensia dengan kelompok intelektual. Istilah pertama berasal dari Rusia (istilah itu mula-mula diperkenalkan oleh penulis P.D.Boborykin pada tahun 1860-an) kaum inteligensia adalah “suatu strata sosial yang terdiri dari orang-orang yang secara profesional terlibat dalam permasalahan mental, terutama dalam bentuknya yang kompleks dan kreatif, dan dalam perkembangan serta penyabaran budaya”. Definisi ini mencakup juga ulama, seperti dalam masyarakat Islam, kedalam kelompok inteligensia.

Bertolak dari definisi Rusia, Edward Shill mengembangkan pengertian baru inteligensia sebagai strata yang bercirikan kualitas keterpelajarannya.Tapi intelektual atau cendekiawan adalah makhluk yang berbeda, mereka adalah orang-orang yang bukan hanya terpelajar tetapi juga terlibat dan melibatkan diri kedalam pemecahan masalah-masalah kemasyarakatan. Alvin Gouldner membedakan intelektual dari inteligensia pada dasarnya bersifat teknis, sedangkan kepentingan intelektual berkategori “kritis, emansipatoris, dan juga politis”.

Keterangan diatas agaknya belum mampu juga membatasi pengertian cendekiawan. Karl Mannheim umpamanya menganggap intelektual sebagai ”inteligensia yang relatif bebas mengambang”. Bebas di sini serupa dengan pengertian Kant tentang deontologi dan otonomi, yaitu rasa kewajiban yang didasarkan pada kehendak merdeka, tanpa tekanan dari luar. Karena itu, maka kebebasan yang memberikan ciri pada keintelektualan itu cenderung bersifat kondisional, dan mensyaratkan kemandirian, juga tak bisa berkelompok. Pengertian tentang cendekiawan Dunia Ketiga sebenarnya diproyeksikan dari model cendekiawan bebas ini.

2. Kebebasan Intelektual

a. Problema Intelektual

Ketika berbicara tentang apa problema intelektual yang dihadapi kaum cendekiawan saat ini, maka setidaknya dapat ditemukan dua masalah mendasar, baik disadari atau tidak. Pertama, adalah problema keterasingan (kegelisahan) intelektual yang bersumber dari problema epistemologi, dari setiap kerangka pemikiran yang dipakai sebagai pendekatan untuk memahami berbagai fenomena eksistensial, baik manusia (jati diri), dan masyarakatnya (kultur), maupun alam semesta (natur). Kedua, problema moral-sosial, masalah yang menyangkut dimensi moralitas, dan etik cendekiawan itu sendiri, bagaimana mengaktualisasi tanggung jawab, komitmen dan pemahaman moralitas-etik dirinya dalam konteks kehidupan riil masyarakatnya, baik dalam konteks politik, ekonomi maupun kebudayaan.

b. Relevansi Kebebasan

Menghadapi kedua problema intelektual cendekiawan yang diuraikan di atas, diperlukan jawaban yang satu sama lain konteksnya berbeda. Jawaban atas problema epistemologi adalah bagaimana cendekiawan mampu menciptakan kebebasan dalam dirinya, melalui kreativitas berpikir dan pemikiran-pemikiran produktif sehingga ia dapat terbebaskan dari belenggu sejarah pemikiran. Kegenitan dan kegelisahan intelektual lebih baik disalurkan pada pemikiran alternatif, betapapun tidak ada gunanya secara politis.

Sedangkan jawaban atas problema moral-sosial cendekiawan adalah bagaimana mereka mampu membebaskan diri dari pengaruh tangan-tangan kekuasaan-birokratik-teknokratik. Jawaban ini berarti dengan tetap memelihara komitmen untuk tetap berada diluar struktur lembaga kekuasaan. Problema moral-sosial menuntut adanya cendekiawan bebas sebagai kelompok sosial independen yang memiliki kritisme sosial. Eksistensi kelompok cendekiawan yang bebas lepas dari praktik politik-birokratik-teknokratik ini sangat penting sebagai perimbang kekuatan cendekiawan milik negara. Tetapi pembebasan diri secara intelektual dan politis terhadap institusi kekuasaan saja, tidaklah cukup. Pembebasan secara institusional-politis perlu dibarengi dengan pembebasan sikap kultural tertentu, dalam konteks ini Anharudin (seorang cendekiawan muda Indonesia) menawarkan konsep hipotetik bagaimana problema epistemologi itu dapat dipecahkan, yaitu konsep pembebaskan cendekiawan dari belenggu sejarah pemikiran, baik berupa ilmu-ilmu pengetahuan empiris maupun ideologi yang akan menjadi salah satu alternatif bagaimana proses pembebasan itu dilakukan dan berarti peluang bagi setiap cendekiawan untuk menciptakan ilmu sendiri, yang paling cocok bagi dirinya maupun masyarakatnya.

Kebebasan dimaksudkan disini adalah suatu konsep yang mengacu pada kondisi subjektif, yaitu kebebasan berpikir pada tingkat subjektif-individual, sebagai pembiasan dari penguasaan keilmuan, kearifan, kesadaran eksistensial dan pemahaman filosofis tentang jati dirinya, dan tentang berbagai persoalan kehidupan. Dengan kata lain, kebebasan cendekiawan adalah “suatu ruang kosmik dalam dirinya dimana ia dapat bebas untuk berpikir dan berpikir bebas”. Itu berarti bahwa dalam dunia ini cendekiawan dapat, boleh, dan bisa untuk tidak lagi terjerat oleh perangkap-perangkap kelembagaan dan normatif masyarakat. Ia boleh dan bebas dari norma-norma, baik norma sosial, agama,maupun budaya. Dalam dunia ini cendekiawan dapat berenang bebas, mengembangkan pemikiran baru, menciptakan kebenaran dan nilai-nilai baru, mempertanyakan kembali makna kebenaran yang telah mapan dan dianut oleh orang-orang kebanyakan.

Jadi, pada  tingkat awal misi cendekiawan adalah membebaskan dirinya dari fragmentasi dunia dan ketidakmasuk akalan eksistensi dirinya. Kemudian setelah itu, misi cendekiawan adalah membebaskan orang lain secara berlahan dari kemelut dan belenggu dunia keterbatasan, menuju dunia kebebasan yang sama.

3.Tanggung Jawab Cendekiawan

Menurut Mohammad Hatta, seorang cendekiawan dengan sendirinya memikul tanggung jawab yang besar, lebih besar dari golongan masyarakat lainnya, karena kualitasnya sebagai yang terpelajar. Cendekiawan memiliki kemampuan untuk menguji yang benar dan yang salah dengan pendapat yang beralasan berdasarkan ilmunya. Disini kaum intelegensia unggul, pertama-tama karena keterpelajarannya, tapi ilmu itu sendiri yang memberi kualitas kepada keterpelajarannya, tidak hanya terdiri dari keterampilan dan kecanggihan berolah pikir. Ilmu, secara instrinsik mengandung nilai-nilai moral. Karena itu, maka kaum intelegensia juga memiliki tanggung jawab moral, selain intelektual. Moralitas itu berkaitan dengan keselamatan masyarakat, tidak saja sekarang tetapi juga kemudian.

Menurut Hatta dengan mengutip Julien Benda, contoh perwujudan tanggung jawab yang dimaksud yaitu, ”Memberi petunjuk dan memberi pimpinan kepada perkembangan hidup kemasyarakatan dan bukannya malahan menyerah diri kepada golongan yang berkuasa yang memperjuangkan kepentingan mereka masing-masing”.Dan merupakan salah satu ciri pokok kecendikiawanan adalah keterlibatannya. Cendekiawan adalah golongan yang berpikir, karena rasa keterlibatannya, sebaliknya keterlibatannya tak terpisahkan dari keberpikirannya.[1]

a. Ideologi dan Tradisi

Intelektual yang berpendapat bahwa dunia dapat diterangkan secara rasional, dapat pula diubah selama ia masih rasional. Hal ini menjadi penting bila dibandingkan dengan semangat konservatif, yaitu semangat melindungi suatu tatanan atau nilai-nilai dengan alasan bahwa itulah yang terbaik hingga saat ini, atau bahkan selamanya. Tatanan atau nilai-nilai yang dijadikan idola tersebut dikemas dalam suatu sistem pemikiran yang disebut ideologi.

Sikap ideologis bukan berarti tanpa pemikiran rasional, ideologi-ideologi besar yang dikenal dalam sejarah peradapan manusia, semua memiliki rationale yang mendalam dan filosofis. Masalah yang dihadapi ideologi ini, dalam kaitannya dengan intelektualisme adalah keengganannya untuk berubah. Dan agama bukanlah satu-satunya sumber ideologis, karena masih ada tradisi serta ideologi kenegaraan. Tradisi tidak harus mengacu kepada sistem nilai atau pemikiran tertentu yang komprehensif, tetapi dapat berupa adat istiadat yang mengatur tingkah laku orang dalam peristiwa-peristwa tertentu secara sporadis. Misalnya, ketentuan dengan siapa orang tidak boleh kawin atau basarnya mas kawin. Sementara yang dimaksud dengan ideologi kenegaraan adalah hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan menurut Undang-Undang Dasar dan doktrin resmi pemerintah.

Sikap ideologis kebanyakan masyarakat, pada gilirannya juga bukan tanpa pembenaran rasional, seperti yang dikandung agama-agama dan ideologi negara. Namun, yang ingin ditekankan adalah kecenderungan untuk berhenti berpikir rasional atas dasar doktrin ideologis, yang pada akhirnya tidak boleh atau tidak berani berpikir lebih lanjut karena akan membahayakan ideologi tersebut.

Apabila konflik antara intelektulisme dan ideologi memang menyangkut yang sedemikian mendasar, seperti cara berpikir ilmiah dan ideologis, maka ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama, perkembangan kebudayaan belum mencapai tingkat dimana masyarakat mampu dan memilih untuk berpikir ilmiah. Kedua, masyarakat memang memilih berpikir ideologis untuk membela agamanya, karena takut membuat kesalahan dan akibatnya dihukum Tuhan.

b. Perubahan Masyarakat

Dengan asumsi bahwa intelektual bekerja secara jujur, dan untuk kepentingan masyarakat banyak, maka kehadiran mereka sangat diperlukan. Hal ini disebabkan karena perubahan masyarakat yang terus-menerus terjadi, dan tidak pernah dicegah oleh ideologi negara maupun agama, memerlukan bimbingan intelektual agar tidak menimbulkan kekacauan. Akan menjadi sangat ironis apabila negara dan agama membiarkan perubahan tata kehidupan terus berlangsung, tetapi tidak menyodorkan jalan keluar bagi masalah-masalah yang ditimbulkannya.

Dalam konteks pemikiran keagamaan, peranan intelektual diperlukan karena Tuhan tidak lagi menurunkan petunjuk-petunjuk baru. Karena itu, apabila agama menolak peranan intelektual, berarti ia tidak bertanggaung jawab terhadap perubahan masyarakat. Dalam keadaan seperti ini, agama akan justru menjadi bagian dari masalah sosial.

Pada kenyataaannya, agama Islam cukup tanggap terhadap masalah sosial yang timbul terhadap masalah sosialyang timbul dalam kehidupan modern sekarang, dengan mengembangkan ilmu pengetahuan atau ekonomi Islam. Kemudian, yang menjadu pertanyaan adalah apakah ada perbedaan subtansial dan berimplikasi praktis, bila dibandingkan dengan ilmu pengetahuan dan ekonomi bukan-Islam. Bila perbedaan itu tidak ada, maka upaya itu hanya menjadi simbol sikap apologetis dan eksklusivisme orang Islam.[2]

4. Konteks Cendekiawan

Cendekiawan sendiri bukan hanya terfragmentasi dalam hal yang berkaitan dengan fungsi dan peranannya ditengah kepentingan umum dan kebaikan masyarakat, namun demikian halnya saat membicarakan cendekiawan dalam konteks posisi dan keberadaannya ditengah masyarakat.

a. Cendekiawan Terpisah

cendekiawan yang memisahkan diri adalah mereka yang muncul melampaui kepentingan diri sendiri dan berbicara bagi kepentingan umum, membuat pertimbangan politis dan kultural atas dasar prinsip-prinsip universal bukan atas dasar prinsip-prinsip yang telah dikaburkan oleh kelas, status, dan kekuasaan. Dalam arti ini, “pendidikan” yang diberikan oleh cendekiawan itu mengangkat publik keluar dari suatu anonimitas dan partikularitas, untuk masuk ke dalam diskursus universal.

Adalah para profesional dalam peran mereka sebagai cendekiawan yang memisahkan diri untuk memberikan kriteria penilaian mengenai apa yang merupakan masalah-masalah sosial, dan dari masalah itu, kemudian menjadi tugas cendekiawan yang berperan sebagai pakar, memberikan perbaikan terhadap masalah-masalah itu, supaya masyarakat dapat memecahkannya sendiri dengan bantuan para profesional.

Sebagai suatu pembentuk opini publik yang bertanggung jawab secara moral, cendekiawan yang memisahkan diri lalu terkait pada publik yang melalui itu perannya dibentuk, keduanya baik cendekiawan maupun publik, saling bergantung satu sama lain akan tetapi relasi ini tidaklah simetris. Oleh karena ada kecenderungan selain idealisme dan pertanggungjawaban moral yang mendasari cendekiawan yang memisahkan diri itu; “kepentingan diri sendiri”- sebagai suatu kelompok profesional kelas menengah.

b. Cendekiawan Pergerakan

Cendekiawan pergerakan dibentuk dalam relasi yang langsung dengan publik, suatu interaksi yang sedikit banyak langsung berhadapan dengan publik yang telah dikenal. Relasi itu akrab dan langsung, yang dalam istilah Gramsci disebut sebagai relasi organis. Baik cendekiawan maupun publik eksis tidak dalam perbedaan mencolok satu dengan yang lainnya, yang satu akan segera menarik perhatian yang lain. Jadi, cendekiawan pergerakan berbicara dalam mode kolektif, untuk dan bagi kolektif; cendekiawan publik dilain pihak berbicara secara individu, meskipun pada saat menjelaskan apa yang dalam editorial dan forum akademik digunakan kata “kita”.

c. Cendekiawan Aristokratik

Mereka adalah para cendekiawan yang mencoba melawan perkembangan-perkembangan bentuk kesusastraan populer seperti surat kabar harian dan majalah mingguan dengan adanya kemungkinan-kemungkinan komersialisasi, karena semakin meluasnya publik penbaca dan pendidikan formal, dengan cara melalui pers persseorangan/swasta dan jurnal-jurnal sastra yang serius tapi sirkulasinya kecil.

Mereka juga mempunyai relasi yang erat dengan publik. Mereka berbicara kepada dan menulis untuk para calon anggota dalam kelompok kecilorang terdidik, apakah itu kelompok elite yang tradisional ataukah garda depan radikal. Dengan kelompok seperti itulah cendekiawan aristokratis berbagi nilai-nilai estetika umum, kiasan-kiasan umum pula; pelestarian atau pembaharuan budaya (tinggi).[3]

 

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan  

J.S. Mill dan Herbert Spencer memberikan dasar bagi pribadi terdidik untuk secara individual merasa bertanggung jawab harus menyuarakan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum dan kebaikan masyarakat, sebagai bentuk pelayanan publik dan bukan semata-mata untuk memperoleh status atau ketenaran pribadi, sehingga akan mengarahkan kepada sebutan sebagai “penghianatan cendekiawan”.

Daftar Pustaka

Tim Editor Masika. 1996. KEBEBASAN CENDEKIAWAN, Yogyakarta; Yayasan bentang budaya dan pustaka Republika.

Eyerman, Ron. 1996. CENDEKIAWAN antara BUDAYA dan POLITIK, Jakarta; Yayasan Obor Indonesia.


[1]  Tim Editor Masika, KEBEBASAN CENDEKIAWAN, Pustaka Republika, Yogya, 1996….hlm ix

[2] Tim Editor Masika, KEBEBASAN CENDEKIAWAN, Pustaka Republika, Yogya, 1996….hlm 84-90

[3]  Ron Eyerman, CENDEKIAWAN antara BUDAYA dan POLITIK, Yayasan Obor Indonesia, 1996….hlm 142-149

Leave a comment »

Konsep Dasar Pendidikan Islam

 

  1. Pendahuluan

Pendidikan adalah sesuatu yang essensial bagi manusia. Melalui pendidikan, manusia bisa belajar menghadapi alam semesta demi mempertahankan kemerdekaannya. Karena pentingnya pendidikan, Islam menempatkan pendidikan pada kedudukan yang penting dan tinggi dalam doktrin Islam. Hal ini bisa dilihat dalam al Qur’an dan hadits yang banyak menjelaskan tentang arti pendidikan bagi kehidupan umat Islam sebagai hamba Allah.

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Bab 1 pasal 1 ayat 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU Sisdiknas No. 20, 2003)

Jadi, pendidikan merupakan suatu proses belajar mengajar yang membiasakan warga masyarakat sedini mungkin menggali, memahami, dan mengamalkan semua nilai yang disepakati sebagai nilai terpuji dan dikehendaki, serta berguna bagi kehidupan dan perkembangan pribadi, masyarakat, bangsa, negara dan agama.

 

  1. Rumusan Masalah
  1.                         1.      Istilah Pendidikan Islam
  2.                         2.      Dasar filosofi Pendidikan Islam
  3.                         3.      Tujuan Pendidikan Islam
  4.                         4.      Fungsi Pendidikan Islam

 

 

 

 

BAB II

KONSEP DASAR PENDIDIKAN ISLAM

 

  1. Hakekat dan Istilah Pendidikan Islam

Secara etimologis pendidikan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab “Tarbiyah” dengan kata kerjanya “Robba” yang berarti mengasuh, mendidik, memelihara.(Zakiyah Drajat, 1996: 25) Menurut pendapat ahli, Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. (Hasbullah,2001: 4)

Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan. (Ngalim Purwanto, 1995:11).

Islam sebagai petunjuk Ilahi mengandung implikasi (pedagogis) yang mampu membimbing dan mengarahkan manusia menjadi seorang mukmin, muslim, muhsin, dan muttaqin melalui tahap demi tahap. Sebagai ajaran (doktrin), Islam mengandung nilai di mana preses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir pedagogis muslim, maka sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan Islam yang lentur juga normatif menurut kebutuhan masyarakat dari waktu ke waktu.

Hakikat pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.

Pendidikan, secara teoritis mengandung pengertian “memberi makan” (opvoeding) kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan “menumbuhkan” kemampuan dasar menusia. Bila ingin diarahkan kepada pertumbuhan sesuai dengan ajaran Islam, maka harus berproses melalui sistem kependidikan Islam, baik melalui kelembagaan maupun melalui sistem kurikuler.

Esensi yang merupakan potensi dinamis dalam setiap diri manusia itu terletak pada keimanan/keyakinan, ilmu pengetahuan, akhlak (moralitas) dan pengamalannya. Oleh karenanya, maka dalam strategi pendidikan Islam, keempat potensi dinamis yang esensial tersebut menjadi titik pusat dari lingkaran proses pendidikan Islam sampai kepada tercapainya tujuan akhir pendidikan, yaitu manusia dewasa yang mukmin/muslim, muhsin, dan mukhlisin muttaqin.[1]

 

  1. Dasar Filosofi Pendidikan Islam

Berdasarkan pendekatan filosofis, Ilmu Pendidikan Islam dapat diartikan sebagai studi tentang proses pendidikan yang didasari dengan nilai-nilai ajaran Islam menurut konsepsi filosofis bersumberkan kitab suci al Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW.Dasar pendidikan Islam terutama adalah Al-Qur’an dan al-Hadist. Dalam Al-qur’an, surat Asy-Syura, ayat 52:

 

Artinya,

“dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu,tetapi kami menjadikan Al-Qur’anitu cahayayang kami beri petunjuk dengan dia siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalannya yang benar.”

Hadist Nabi Muhammad SAW yang artinya:

“sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasategakta’at kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta menasehati pula akan dirinya sendiri, menaruh perhatianserta mengamalkanajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung danmemperoleh kemenangan ia” (Al-Gazali, Ihya’ Ulumuddin hal. 90).

Dari ayat Al-Qur’andan Hadist Nabi di atas dapat di ambil titik relavansinya dengan atau sebagai dasar pendidikan agama, mengingat:

  1.                   1.          Bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk ke arah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk ke arah jalan yang diridhoi Allah SWT.
  2.                   2.          Menurut Hadist Nabi, bahwa di antara sifat orang mu’min ialah saling menasehati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.
  3.                   3.          Al-Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa Nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkankepada umatnya agar saling member petunjuk, member bimbingan, penyuluhan, dan Pendidikan Islam.

Prof. Dr. Moh. Athiyah al-Abrasyi  dalam bukunya “Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam” menegaskan bahwa pendidikan agama adalah untuk mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur”.[2]

Urutan prioitas pendidikan Islam dalam upaya pembentukan kepribadian muslim, sebagaimana di ilustrasikan berturut-turut dalam al Qur’an surat Luqman, mulai ayat 3 dan seterusnya adalah:

  1. a.      Pendidikan keimanan kapada Allah SWT.

Pendidikan yang pertama dan utama untuk dilakukan adalah pembentukan keyakinan kepada Allah yang diharapkan dapat melandasi sikap, tingkah laku dan kepribadian anak didik.

  1. b.      Pendidikan Akhlaquk Karimah

Berakhlak yang mulia adalah merupakan modal bagi setiap orang dalam menghadapi pergaulan antara sesamanya. Akhlak termasuk makna yang terpenting dalam hidupan ini.

 

 

  1. c.       Pendidikan Ibadah

Islam memandang untuk manusia suatu tata tertib untuk kehidupannya sebagai suatu keseluruhan, baik material maupun spiritual.upaya untuk ini Islam memberikan aturan-aturan peribadatan, sebagai manifestasi rasa syukur bagi makhluk terhadap khaliqnya.

Firman Allah:

“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia mengerjakan yang cegahlah mereka dari perbutan yang munkar dan bersabarlah terhadap api yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah”. ( Luqman : 17)

Yang esensial dari pendekatan filosofis ini adalah lahirnya sikap dasar dan pandangan dasar yang meyakini bahwa Islam sebagai agama wahyu (agama samawi) mengandung konsep-konsep, wawasan-wawasan dan ide-ide dasar yang memberi inspirasi terhadap pemikiran umat manusia dalam rangka menyelesaikan permasalahan kehidupannya.[3]

 

  1. Tujuan Pendidikan Islam

Pelaksanaan pendidikan Islam yang berkembang dalam masyarakat berorientasi kepada pelaksanaan misi Islam dalam tiga dimensi pengembangan kehidupan manusia, yaitu:

  1.                   1.      Dimensi kehidupan duniawi yang mendorong manusia sebagai hamba Allah untuk mengembangkan dirinya dalam ilmu pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang mendasari kehidupan yaitu nilai-nilai Islam.
  2.                   2.      Dimensi kehidupan ukhrawi mendorong manusia untuk mengembangkan dirinya dalam pola hubungan yang serasi dan seimbang dengan Tuhannya. Dimensi inilah yang melahirkan berbagai usaha agar kegiatan ‘ubudiahnya senantiasa berada di dalam nilai-nilai agamanya.
  3.                   3.      Dimensi hubungan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi mendorong manusia untuk berusaha menjadikan dirinya sebagai hamba Allah yang utuh dan paripurna dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan, sekaligus menjadi pendukung serta pelaksana (pengamal) nilai-nilai agamanya.

Kalau kita lihat kembali pengertian pendidikan islam, akan terlihat dengan jelas sesuatu yang diharapkan terwujud setelah orang mengalami pendidikan Islam secarah keseluruhan adalah kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi “Insan Kamil” dengan pola takwa, insan kamil artinya manusia utuh jasmani dan rohaninya, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya kepada Allah SWT. Ini mengandung arti bahwa pendidikan islam itu diharapkan menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya dan masyarakatnya serta senang dan gemar mengamalkan, mengajarkan dan mengembangkan ajaran islam dalam berhubungan dengan Allah dan dengan manusia sesamanya serta dapat mengambil  manfaatnya.

Tujuan ini kelihatannya terlalu ideal, sehingga sukar dicapainya, tetapi dengan kerja keras yang dilakukan secara berencana dengan kerangka-kerangka kerja yang konsepsional mendasar, pencapaian tujuan itu bukanlah mustahil.

Ada beberapa tujuan pendidikan, yaitu;

a. Tujuan Umum

Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan baik dengan semua kegiatan pendidikan baik dengan pengajaran atau cara lain. Tujuan ini meliputi seluruh aspek kemanusiaan yang meliputi sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan, dan pandangan. Cara atau alat yang paling efektif dan efisien dalam tujuan pendidikan adalah pengajaran.

Tujuan umum pendidikan islam harus dikaitkan pula dengan tujuan pendidikan nasional Negara tempat pendidikan islam itu dilaksanakan dan harus dikaitkan pula dengan tujuan institusional lembaga yang menyelenggarakan pendidikan itu.  Tujuan umum ini tidak dapat dicapai kecuali setelah melalui proses pengajaran, pengalaman, pembiasaan, penghayatan dan keyakinan akan kebenarannya.

b.Tujuan Akhir

Pendidikan islam itu berlangsung selama hdup, maka tujuan akhirnya terdapat pada akhir kehidupan ini pula. Orang yang sudah taqwa dalam bentuk insan kamil masih perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang-kurangnya supaya tidak luntur ketaqwaan seseorang tersebut karena banyaknya pengaruh-pengaruh. Tujuan akhir pendidikan islam iti dapat dipahami dalam firman Allah :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qà)®?$# ©!$# ¨,ym ¾ÏmÏ?$s)è? Ÿwur ¨ûèòqèÿsC žwÎ) NçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡•B ÇÊÉËÈ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. ( Q. S . 3 Ali Imron 102 )

Mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah sebagai muslim yang merupakan ujung dari taqwa sebagai akhir dari proses hidup jelas berisi proses pendidikan. Inilah akhir dari proses pendidikan itu yang dapat dianggap sebagai tujuan akhir. Insan kamil yang mati dan akan menghadap tuhannya merupakan tujuan akhir dari proses pendidikan islam.

  1. Tujuan Sementara

Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalan suatu kurikulum pendidikan formal.

Pada tujuan sementara insan kamil dengan pola taqwa sudah kelihatan meskipun dalam ukuran sederhana, sekurang-kurangnya beberapa ciri pokok sudah kelihatan pada pribadi anak didik. Tujuan pendidikan Islam seolah-olah merupakan suatu lingkaran yang pada tingkat paling rendah mungkin merupakan suatu lingkaran kecil. Semakin tinggi tingkat pendidikannya maka lingkaran tersebut akan semakin besar

  1. Tujuan Oprasional

Tujuan oprasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu disebut tujuan operasional. Dalam pendidikan formal, tujuan oprasional ini disebut juga tujuan instruksional yang selanjutnya dikembangkan menjadi tujuan instruksional umum dan khusus (TIU dan TIK).

Dalam tujuan oprasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan ketrampilan tertentu. Sifat oprasionalnya lebih ditonjolkan dari sifat penghayatan dan kepribadian. Misalnya, ia dapat berbuat, terampil melakukan, lancar mengucapkan. Mengerti, memahami, meyakini adalah soal kecil. Dalam pendidikan hal ini terutama berkaitan dengan kegiatan lahiriyah, seperti bacaan dan kaifiyat sholat, akhlaq dan tingkah laku. Pada masa permulaan yang penting adalah anak didik mampu dan terampil berbuat, baik perbuatan itu perbuatan lidah (ucapan) ataupun perbuatan anggota badan lainnya.[4]

  1. Fungsi Pendidikan Islam

Fungsi pendidikan Islam adalah menyediakan segala fasilitas yang dapat memudahkan tugas-tugas pendidikan Islam tersebut tercapai dan berjalan dengan lancar. Penyediaan fasilitas ini mengandung arti dan tujuan yang bersifat struktural dan institusional.

Arti dan tujuan struktur adalah menuntut terwujudnya struktur organisasi pendidikan yang mengatur jalannya proses kependidikan, baik dilihat dari segi vertikal maupun segi horizontal. Faktor-faktor pendidikan bisa berfungsi secara interaksional (saling mempengaruhi) yang bermuara pada tujuan pendidikan yang diinginkan. Sebaliknya, arti tujuan institusional mengandung implikasi bahwa proses kependidikan yang terjadi di dalam srtuktur organisasi itu dilembagakan untuk menjamin proses pendidikan yang brejalan secara konsisten dan berkesinambungan yang mengikuti kebutuhan dan perkembangan menusia dan cenderung ke arah tingkat kemampuan yang optimal. Oleh karena itu, terwujudlah berbagai jenis dan jalur kependidikan yang formal, informal, dan non-formal dalam masyarakat.

Menurut Kurshid Ahmad, fungsi pendidikan Islam adalah sebagai berikut:

  1.                   1.      Alat untuk memelihara, memperluas dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial, serta ide-ide masyarakat dan bangsa.
  2.                   2.      Alat untuk mengadakan perubahan, inovasi dan perkembangan yang secara garis besarnya melalui pengetahuan dan skill yang baru ditemukan, dan melatih tenaga-tenaga manusia yang produktif untuk menemukan perimbangan perubahan sosial dan ekonomi.[5]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Pendidikan Islam menurut Zakiah Drajat merupakan pendidikan yang lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain yang bersifat teoritis dan praktis.

Dengan demikian, pendidikan Islam berarti proses bimbingan dari pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani, dan akal peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim yang baik (Insan Kamil).

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Arifin, M. Ed. 1933. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Al Abrasyi, Moh. Athiyah. 1980. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. Terjemah Prof. H. Bustani A. Goni dan Djohar Bahri LIS. Jakarta : Bulan Bintang.

Daradjat, Zakiah. 2004. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Mujib, Abdul Mujib. Dan Mudzakir, Jusuf. 2006. Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta, PrenadaMedia.

Al Qur’an Al Karim. Ali Imron, ayat 102.

 

 

 

 

 


[1]  Prof. H. M. Arifin, M. Ed. Ilmu Pendidikan Islam. JKT, Bumi Aksara. 1993……hlm 32

2  Moh. Athiyah Al Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Terjemah Prof. H. Bustani A. Goni dan Djohar Bahri LIS. Jakarta : Bulan Bintang, 1980. Hal. 15.

[3]  Prof. H. M. Arifin, M. Ed. Ilmu Pendidikan Islam. JKT, Bumi Aksara. 1993……hlm 109

[4] Daradjat, Zakiah, Dr., Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta:2004 cet.5 hlm….29

 

[5]  Dr. Abdul Mujib, M. Ag. Dan Dr. Jusuf Mudzakkir, M. Si. Ilmu Pendidikan Islam.JKT, PrenadaMedia. 2006 hlm…69

Leave a comment »

teori sosial

Teori-Teori Sosial Dalam kontek IDEologi dan Perubahan Sosial

Islam sebagai Agama Perubahan

(sebuah pendekatan dan tinjauan kritis sebagai upaya pembaharuan)Ò

oleh Yuristiarso HidayatÓ

 Pendahuluan

Berbicara ideologi maka kita akan terjebak pada beberapa tokoh terkemuka yang pernah melahirkan berbagai paham ideologi besar dunia yang hingga kini masih dirasakan pengaruhnya. Bagaimanapun gagasan tentang ideologi didasari oleh adanya gap/jurang (jarak antara des sain and des sollen (apa yang mestinya terjadi dengan apa yang telah terjadi), bila diserderhanakan adanya perbedaan antara iedalitas dan realitas yang ada.

Sehingga dalam kontek tersebut, ideologi digagas oleh para filosuf untuk digunakan sebagai alat perubahan sosial. Nah berbicara ideologi maka tidak akan pernah lepas dari kajian Sosiologi khususnya pada Teori-Teori Sosial.

Dalam kontek Sosilogi maka kita akan membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat atau para pakar sering menganalogkan Sosiologi sebagai ilmu tetang masyarakat.

Selanjutnya layak bila lebih dulu kita mengetahui karakteristik dan konsepsi dasar dari Sosiologi. Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.